Kunjungan ke Surga

Kawan,

Duduklah sejenak bersila, hadap-hadapan kita dan sebentar saja ku minta waktumu

Kuingin bertutur tentang magisnya sinar rembulan jatuh malam ini

sebagaimana ia jatuh tepat di ranjangku serta menjemputku naik

menyuguhkan pandangan yang tak terlintas padaku barang sedetik

Kawan,

Terakhir kuingat adalah gelap, kala mataku terpejam nyenyak dibalik hangat kemul yang mendekapku lembut

Rupa-rupanya itu fajar, dan aku tak biasanya peduli itu

Namun fajar dihari itu sama sekali lain

Aku terbangun pada tiup lembut sejuk khas udara pegunungan

Mungkin kulitku pangling, maklum, aku sedari kecil sudah menyembah gemerisik desir ombak

Kemudian terjaga aku, tersentak dan terbelalak

Aku terbangun di suatu ruangan yang begitu indahnya, harum kasturi menyerbak menyadarkanku

Kasurnya yang empuk lengkap dengan selimut berbulu angsa dan ukuran yang amat lega,

Cukup betul membuatku terlelap jika lengah walau sekejap

Dahiku berkerut dan alisku terangkat, aku bingung seribu bingung

Kala aku menyadari mewah betul kamar ini

Pun menyebutnya kamar aku ragu, kagumku berdecak akan luasnya, setara aula sekolahan!

Tentu ini bukan kamarku yang sempit nan berantakan

Perabotan antik nan indah tampak begitu padu walau disanding dengan kaca besar layaknya rumah elit Pondok Indah

Dari kaca itu aku mampu menerawang ufuk merah yang mendaki awan, melawan gulita dan embun yang seakan tak mau kalah

Semburat oranye itu tampak begitu megah bersanding dengan siluet pepohonan besar nan rimbun

Kepalaku menggeleng sembari bergumam, ‘Astaga, Aku ini dimana?’

Jantungku hampir lepas ketika aku melompat jatuh dari kasurku

Kala gumamku ternyata dijawab suara yang menggema di sekujur ruangan

Suara itu menenangkan betul, layaknya dekap rindu seorang Ibu

Ia pula berwibawa, layaknya kokoh pundak seorang Ayah

Namun sosoknya sama sekali tak tampak

Merinding aku, Demi Tuhan!

‘Inilah surga yang selama ini kau lupakan’ ujarnya kemudian menyebut namaku

Waktu berlari begitu cepat

Seiringnya pula langit membiru dan awan putih cerah bergumpal

Matahari cerah jatuh tepat di hadapan wajahku yang masih terheran-heran

Kuberanikan diri berdiri dan melangkah menuju balkon

Ampun, terpana takjub aku memandangnya.

Sepanjang mata memandang yang kulihat hanyalah keindahan

Pegunungan, hutan yang asri dan jauh disana terdapat lautan lengkap bersama airnya yang membiru dan mengkilap cahaya jatuh menampilkan bayang burung yang berterbangan

Dibawahku mengalir sungai-sungai yang padanya berenang ikan-ikan berjuta warna, gemericik suara air terdengar begitu lembut dan sopan menghinggapi telingaku

Sekali lagi aku bergumam, yang tiada ku sangka jadi gumam paling ku sesali seumur hidupku

‘Apalah kurangnya tempat ini jika betul inilah yang disebut-sebut Surga?’

Suara itu menggema kembali, tapi kali ini dengan nada yang begitu mengundang tanya

‘Hanya satu kurangnya’

Kepalaku tak berhenti memikirkan apa kurangnya, kembali dahi ku tertekuk

Suaranya kali ini benar-benar terdengar seperti mimpi buruk

yang tak terbayar dengan jutaan liter air mata

‘Di surga ini nantinya, tidak ada kamu’.

Lawang Wangi, Dago Pakar.

Senyawa Romansa

Molekul kimia perasaan ini merekah indah
Daya kohesi wajahmu memikat imajinasi akan kolase tentram dan senyuman
Khayal tentang kita, letih sarafku mengayuh dalam serotonin semu
Adakah akhir narasi dari nyanyian indah tentang dikau, Athena?

Kedai Kopi

Semoga

Semoga

Teriknya Ringroad

Ramah tamah warga

Tata Krama Gadjah Mada

Nikmatnya Angkringan

Temaram langit malam

Dan seluruh kesederhanaan Yogyakarta

Menjagamu, Sebaik-baiknya

Semoga

Filosofi Kopi Jogja