Kau salah, Renjana. Malangnya surat patah hatimu justru sampai kepadaku. Apa salahnya jika aku sudah nyaman di bawah atap megah ini? Bukankah istana memerlukan sang ratu? Cawan emas disampingku saja tidak marah walau ku kotori dengan coklat panas kesukaanku. Lagi-lagi kau salah, Renjana. Bagaimana hubunganku bisa hambar hanya dalam 5 bulan jika setiap detik dia selalu membuatku tersenyum? Paling tidak, pantang untuknya mengkhianati janji yang telah dibuat. Tidak sepertimu.
Renjana, tampaknya egois telah melekat pada jiwamu. Atau mungkin sudah ada sejak dulu? Jika betul begitu, anggaplah aku yang terlalu bodoh tidak menyadarinya. Bagaimana bisa kau menuangkan egomu pada secarik kertas lalu menamainya sebagai surat patah hati? Bedebah. Untuk apa aku peduli pada nostalgia yang menyedihkan itu.
Kisah kita telah hancur saat kau memilih berkhianat pada janji yang telah kita buat dibawah rembulan malam itu. Masih terekam jelas diingatanku bagaimana bibir manismu mengucapkan janji itu dengan disaksikan para bintang dan lampu kota. Apa tidak ada rasa malu mu pada mereka? Aku curiga, mungkin waktu itu mereka menahan muntah mendengarmu.
Renjana, aku bertanya padamu, apa ada 1 hal yang tidak kau ketahui tentangku? Kau pasti sedang menghisap tembakaumu sembari berfikir sangat keras mencari jawabannya. Kenapa, Na? Bukankah jawabannya tidak ada? berhenti berfikir! Kau yang paling tau seberapa berharganya janji untukku. Janji itu penopang hidupku, Na. Juga harapanku atas kisah kita. Lantas kau menceritakan kisah yang telah hancur kepadaku?
Kau yang selalu bertanya kepadaku, bagaimana caramu untuk membalas semua yang telah aku berikan padamu. Aku tidak pernah menjawab itu. Tapi seharusnya kau tau jawabannya. Kau bukan keledai bodoh yang setiap hari diperintahkan memanggul jerami. Ternyata ini balasanmu. Apakah aku terlalu berlebihan menilaimu?
Kesalahan apa yang telah aku lakukan padamu, Renjana? Laki-laki yang paling tau tentangku tega menikamku dengan gagah, lalu datang menyogok dengan supucuk surat patah hatinya. Hancur. 1 Kata yang menggambarkanku kala itu. Aku terkapar hampir mati dibawah reruntuhan kisah kita dan puing-puing janji yang pernah kau ucapkan. Atau bahkan waktu itu aku telah mati tapi Tuhan menghidupkanku kembali karena belas kasihannya untukku? Entahlah. Hanya langit malam yang mengetahui kebenarannya. Yang aku tau, kau meninggalkanku sendirian seakan tidak pernah ada cinta untukku dihatimu, demi wanita itu.
Renjana, kau benar kali ini. Tidak usah menarik bibirmu, aku memujimu untuk hal bodoh yang baru kau sadari. Rindu hanya untuk orang-orang yang tak punya pendirian. Mengapa saat ini merindukanku jika dulu kau mencampakkanku? Kau sungguh tak punya pendirian. Apakah kau tau, mengapa aku tidak ingin ada penyesalan dalam hidupku? Karena penyesalan adalah neraka terdalam di dunia. Bukankah kau menyadari kebenarannya sekarang? Akhirnya kau bisa mempercayai ucapanku. Sudahlah, tak perlu terlalu bersedih. Kau sedang menuai atas apa yg telah kau tabur. Sampaikan salamku pada besi tua Eropa milikmu. Aku bahagia pernah menyusuri kota bersamanya.
Aku dan kamu, atau pantaskah ku sebut ‘kita’, dipertemukan
Dalam ratus-juta kemungkinan lain, alih-alih di hiruk pikuk Sudirman atau di antara antrian rumah makan prasmanan,
Takdir kita bertemu, tepat di detik ini
Di kafetaria sepi, pada sudut jalan Setiabudi
Bersama langit yang mendung, dan seberkas cahaya neon, yang jatuh tepat pada pantulan bayangmu
Sehingga aku, di pojok yang sunyi ini, mampu menganggumi elok pesonamu
Dalam diam tentunya, karena aku bukanlah pangeran ibukota, yang dengan gampangnya memikat hati sang hawa dalam sekali tatap
Aku hanyalah seorang rantau kecil, yang beruntung berada lima langkah dari sang mega
Kau, tampak begitu serasi dengan blouse gelap, yang seakan-akan mencoba mengurangi pikatmu pada semesta namun tak mampu
Di pergelangan tanganmu, samar-samar terlihat lukisan mawar,
yang jika kurteka melambangkan dikau, yang indah dan berduri?
Apakah itu permanen? bukannya proses itu begitu sakit dan berbahaya?
Lantas, gerangan apa yang membuatmu melawan takut itu, kemudian dengan yakin merajut mawar itu menyatu pada ragamu?
Sedang demikian, mengapa kau hanya sendiri, berteman secangkir Americano dan sebatang tembakau di sela jemarimu?
Sembari sesekali mengangguk-angguk dan bergumam mengikuti alunan lagu lawas dari penampil yang tak begitu menarik itu
Dalam imajiku, yang sedang liar berkelana karenamu, aku akan mengisi bangku kosong di depanmu
Menatap indahmu lebih lekat dalam dekat, menikmati candumu lebih intim kemudian tenggelam dalam bius suaramu
Mencoba membangun sepatah dua patah pertanyaan demi mengalihkan pikirmu bahwa aku sedang diam2 mengaggumimu dalam setiap jawab yang kau ucap
Sebagaimana mantra, apapun kata dalam bicaramu seakan di rapal langsung oleh Succubus, tertuju khusus padaku. Setidaknya untuk akhir hari ini.
Aromamu, sepintas manisnya harum mawar berbalut citrus khas racikan Miss Dior, berbalut nuansa gelap asap tembakau, menyulap sore di kafetaria ini semetara menjelma surga bagiku dan aku seorang.
Namun semua hanya imajiku, yang terlalu pengecut untuk mampir dan menanyakan namamu
Pada akhirnya, kekaguman ini akan berakhir secara tragis sekaligus klasik,
Aku benar-benar berharap keindahan ini tak akan ada ujungnya, agar menjadi kekal dalam khayal
Namun tiada dayaku, mampu menahanmu melirik waktu di pergelangan tangan kidalmu lalu lambat laun beranjak menjauh
Kekaguman yang semu ini, pada akhirnya, kembali menjadi aku dan kamu, tidak pernah sampai menjadi kita
Namun izinkan aku, dalam sepotong syair ini saja, memori serta imajiku tentangmu, abadi.
Sembari berharap-harap hampa, jutaan kemungkinan lainnya, menghantarkan aku dan kamu pada kali kedua.