Canggu

Gelak menggelegar di langit-langit kamar

Kali pertama, senandungmu mengudara ke telinga

Amat lucu bagiku, mengamati tingkahmu

Berpura menjadi korban, demi undangan atau siaran

Entahlah, siapa diantara kita yang munafik

Telunjuk kau acungkan padaku, begitu naifnya

Jika aku sang dalang, bukankah kau yang memohon, tuk menjadi wayang?

Aku tak pernah menuntut, tak pernah meminta

Kau memberi, aku menerima, terus begitu, berdalih sayang

Kau, tenggelam dalam lautan harapmu

Teriakmu, mengutuk Sang deru

Ia tak pernah berubah, pun tak pernah terduga

Mencintai laut artinya menaklukan ombak

Apalah artinya tulus, kalau masih kau paksakan cinta?

Sedari awal, tiada aku menarikmu, kau yang mendekat

Aku tiada kuasa mendorongmu, jauh

Kau, menembus ujung garis pantai, berserah

Maka bergumul kita, dalam naungan malam, Canggu

Berpacu melodi, kita mengalun dan berdansa

Membeku sang waktu, kau dipundakku

Tak kusangkal adanya,

Mungkin bertabur benih asmara, mekar merekah disana

Namun, tiada pantasnya kau sebut itu cinta

Kutegaskan, tidak pernah ada, ikatan romansa, kita.

Maka, jangan.

Jangan berani-berani kau sebut aku trauma,

Kau, sebagaimana semula, bukanlah siapa-siapa.

.

.

.

(Tulisan ini adalah tanggapan penulis berupa sajak atas lagu ‘Arteri’ dari .Feast)

Kepastian

Sepi mencekik aku ditengah berisik

Dalam ramai, aku terhanyut sunyi

Walau damai, aku terpikat berai

Aku mengagumi acuhmu,

Sesuka hati mengetuk dan mampir

Melepas sepucuk canda, tawa dan senyum terukir

Menuangkan segelas rasa, bersemi harap terakhir

Telah penuh hasratmu, kau melipir dan mangkir

Aku terlalu lama di lantai dansamu, menari

Kau yang tak hentinya mengalun melodi, bernyanyi

Memaksaku, tak boleh ada langkah henti

Menggugahku, menjelma bagimu, satu yang abadi

dan Sekali lagi, amat hati-hati, tiada bunyi

tanpa pamit, engkau seketika pergi

Aku begitu lelah, lemah

Tiada mampu daku, mencintai dalam sendiri

(Tidak) Sabar

Hadirmu,

Beratus hari aku dalam sendiri, semedi, menanti

Menoleh kanan-kiri, jemu jua hati mencari

Menemukanmu, aku cukup, berhenti

Aku bukan siapa-siapa

Sesosok biasa, seorang jelata

Tentangmu, lain cerita

Kau adalah segala dalam satu, juga satu dalam sejuta

Dirimu, selalu yang tidak terucapkan, tak pernah tersampaikan

Seribu satu hal adalah kamu

dan sepenuhnya, aku mau

Denganmu aku malu, bersamaku kau tersipu

dan melebur Kita, semesta dibasuh gempita

Merah merona, melukis teduh binar wajahmu

Tiada satu berani tanding, kau, paripurna

Adalah dikau, amin dari setumpuk semoga

Karena dikau, penantian tak payah menyentuh baka

Maka tentu, tak lagi mampu aku menunggu

Segenap hatiku menggebu, Sekujur ragaku melaju

Sabar adalah dalih mereka yang ragu

Bukan daku, telah bulat keputusan kalbu

Yakin sempurna, bertaburan semoga,

Aku, memilihmu

Obsesi

Aku ingin menatapmu,

Dalam temu pertama, aku jatuh suka

Aku ingin mengenalmu,

Dalam ucap pertama, bertebar buai pesona

Aku ingin menyentuhmu,

Dalam gerak pertama, lumpuh seketika

Aku ingin mengagumimu,

Dalam temaram yang dingin, aku kembali ingin

Jenakamu, tawamu, mesramu, suaramu, kerut dahimu

Aku ingin belanja bulanan bersamamu,

Apa cemilan favoritmu? Aku mau tau!

Aku ingin pulang ke kampung halamanmu,

Menyusuri satu per satu, sarapan berdua tiap sabtu

Aku ingin pula dijepret bersamamu,

Lalu dicetak, disimpan di saku belakangku,

Guna kukenang kala rindu mengganggu

Aku ingin memandang wajahmu,

dalam tiap-tiap reklame di pinggir jalan tol yang lengang, sepi

Sebagaimana daku, tanpa sambutmu 2 malam terakhir

Susuk macam apa yang dikau guna? Aku mau beli!

Karena sunggguh amat terkutuk, aku jatuh cinta

Aku ingin, apa saja, kapan saja, dimana saja,

Bersamamu. Aku mau.

Menuntut Mesra

Hinggap rindu dipenghujung kamarku

Memboyong segelintir kenangku tentangmu

Tak lama ia suapkan, meski pahit ku telan

Pedihnya perpisahan, dan kita melambai di simpang jalan

Terekam jelas dalam ingat,

Kisah sesaat kita, dalam bulan lahirmu

Tiga hari, dua malam, merayakan

Aku adalah lebah dan kau sang ratu

Seribu sembah sujud, manis seumpama madu

Kala itu sejenak tumpah semua rasa

Ku ukir satu-dua senyum dipipimu

dan seketika merasuk, melekat, erat,

Asmara

Cemburu berganti cumbu, Sayu menjelma rayu

Lalu terdengar bisikmu, yang tiada mungkin pernah kulupa

“Aku ingin Menuntut Mesra”

Merah padam wajahku, hampir mati aku menanggung malu

Hanyut daku dalam dekapmu, Terbuai engkau dalam kecupku

Kelip lampu ibukota, berdansa dalam gelap, bergembira

Untuk begitu sejenak, terjadi

Segala yang kita ingin, yang tak terucap

Sembilan tahun penantian, lunas tuntas

Bahagia, kita, sementara,

Karena satu yang tiada beku, waktu.

Secarik Doaku Untukmu

Jakarta tampak berbeda Senin ini,

Langit biru yang sekian lama sembunyi, gagah membentang menyongsong hari

Surya seakan bersinar lebih cerah, lebih indah

Begitu pun bunga-bunga, yang selaras mekar merekah

Seperti semesta ikut merestu dan bahagia, merayakan harimu

Semenjak fajar tadi, telah kupanjatkan puja-puji

Luapan khidmat syukurku, serta segenap pinta harapku

Atas nikmat sang kuasa, mengizinkanmu

Satu hari lagi melangkah,

Yang pada tiap derapnya, menggetarkan kebajikan

Tiada gentar, tegas menantang lantang

Satu hari lagi bertitah,

Yang dalam tiap ketukan nafasmu, terhela tulus baktimu

Pada rakyat, bangsa, dan negara ini

Satu hari lagi menulis,

Yang dalam tiap tetes tintanya, kau basuhkan bijak

Untuk kami yang mendambakan adil

Satu hari lagi berjuang,

Yang dalam tiap peluh keringatnya, erat mengawal pundi rupiah

Agar tak sepeserpun melayang tanpa makna

Karena itu pula dalam semogaku,

dan kuyakin diamini ratus juta insan lainnya

Agar bahagia senantiasa menyertaimu,

Senyum tak luntur dari wajahmu,

Cinta tiada padam mendekap kalbu,

dan Cahaya senantiasa mengiring, memandu

karena sesungguhnya,

Sebagaimana cintamu pada Republik ini,

Republik ini betul-betul telah jatuh cinta pada sosok sepertimu, Ibu

dan sudah sepatutnya, kami kirimkan secarik doa ini, untukmu

Selamat atas hari lahirmu, sang jelita, Srikandi Bangsa

Jawaban Surat Patah Hati

Ditulis oleh : Gian Paradisiaca K


Kau salah, Renjana.
Malangnya surat patah hatimu justru sampai kepadaku.
Apa salahnya jika aku sudah nyaman di bawah atap megah ini?
Bukankah istana memerlukan sang ratu?
Cawan emas disampingku saja tidak marah walau ku kotori dengan coklat panas kesukaanku.
Lagi-lagi kau salah, Renjana.
Bagaimana hubunganku bisa hambar hanya dalam 5 bulan jika setiap detik dia selalu membuatku tersenyum?
Paling tidak, pantang untuknya mengkhianati janji yang telah dibuat. Tidak sepertimu.

Renjana, tampaknya egois telah melekat pada jiwamu.
Atau mungkin sudah ada sejak dulu?
Jika betul begitu, anggaplah aku yang terlalu bodoh tidak menyadarinya.
Bagaimana bisa kau menuangkan egomu pada secarik kertas lalu menamainya sebagai surat patah hati?
Bedebah.
Untuk apa aku peduli pada nostalgia yang menyedihkan itu.

Kisah kita telah hancur saat kau memilih berkhianat pada janji yang telah kita buat dibawah rembulan malam itu.
Masih terekam jelas diingatanku bagaimana bibir manismu mengucapkan janji itu dengan disaksikan para bintang dan lampu kota.
Apa tidak ada rasa malu mu pada mereka?
Aku curiga, mungkin waktu itu mereka menahan muntah mendengarmu.

Renjana, aku bertanya padamu, apa ada 1 hal
yang tidak kau ketahui tentangku?
Kau pasti sedang menghisap tembakaumu sembari berfikir sangat keras mencari jawabannya.
Kenapa, Na? Bukankah jawabannya tidak ada? berhenti berfikir!
Kau yang paling tau seberapa berharganya janji untukku.
Janji itu penopang hidupku, Na. Juga harapanku atas kisah kita.
Lantas kau menceritakan kisah yang telah hancur kepadaku?

Kau yang selalu bertanya kepadaku, bagaimana caramu untuk membalas semua yang telah aku berikan padamu.
Aku tidak pernah menjawab itu.
Tapi seharusnya kau tau jawabannya.
Kau bukan keledai bodoh yang setiap hari diperintahkan memanggul jerami.
Ternyata ini balasanmu.
Apakah aku terlalu berlebihan menilaimu?

Kesalahan apa yang telah aku lakukan padamu, Renjana?
Laki-laki yang paling tau tentangku tega menikamku dengan gagah, lalu datang menyogok dengan supucuk surat patah hatinya.
Hancur.
1 Kata yang menggambarkanku kala itu.
Aku terkapar hampir mati dibawah reruntuhan kisah kita dan puing-puing janji yang pernah kau ucapkan.
Atau bahkan waktu itu aku telah mati tapi Tuhan menghidupkanku kembali karena belas kasihannya untukku?
Entahlah. Hanya langit malam yang mengetahui kebenarannya.
Yang aku tau, kau meninggalkanku sendirian seakan tidak pernah ada cinta untukku dihatimu, demi wanita itu.

Renjana, kau benar kali ini.
Tidak usah menarik bibirmu, aku memujimu untuk hal bodoh yang baru kau sadari.
Rindu hanya untuk orang-orang yang tak punya pendirian.
Mengapa saat ini merindukanku jika dulu kau mencampakkanku?
Kau sungguh tak punya pendirian.
Apakah kau tau, mengapa aku tidak ingin ada penyesalan dalam hidupku?
Karena penyesalan adalah neraka terdalam di dunia.
Bukankah kau menyadari kebenarannya sekarang?
Akhirnya kau bisa mempercayai ucapanku.
Sudahlah, tak perlu terlalu bersedih.
Kau sedang menuai atas apa yg telah kau tabur.
Sampaikan salamku pada besi tua Eropa milikmu.
Aku bahagia pernah menyusuri kota bersamanya.

-Rahayu.

Pojokan Kafetaria .

Di suatu sore, pada akhir tahun yang silam

Aku dan kamu, atau pantaskah ku sebut ‘kita’, dipertemukan

Dalam ratus-juta kemungkinan lain, alih-alih di hiruk pikuk Sudirman atau di antara antrian rumah makan prasmanan,

Takdir kita bertemu, tepat di detik ini

Di kafetaria sepi, pada sudut jalan Setiabudi

Bersama langit yang mendung, dan seberkas cahaya neon, yang jatuh tepat pada pantulan bayangmu

Sehingga aku, di pojok yang sunyi ini, mampu menganggumi elok pesonamu

Dalam diam tentunya, karena aku bukanlah pangeran ibukota, yang dengan gampangnya memikat hati sang hawa dalam sekali tatap

Aku hanyalah seorang rantau kecil, yang beruntung berada lima langkah dari sang mega

Kau, tampak begitu serasi dengan blouse gelap, yang seakan-akan mencoba mengurangi pikatmu pada semesta namun tak mampu

Di pergelangan tanganmu, samar-samar terlihat lukisan mawar,

yang jika kurteka melambangkan dikau, yang indah dan berduri?

Apakah itu permanen? bukannya proses itu begitu sakit dan berbahaya?

Lantas, gerangan apa yang membuatmu melawan takut itu, kemudian dengan yakin merajut mawar itu menyatu pada ragamu?

Sedang demikian, mengapa kau hanya sendiri, berteman secangkir Americano dan sebatang tembakau di sela jemarimu?

Sembari sesekali mengangguk-angguk dan bergumam mengikuti alunan lagu lawas dari penampil yang tak begitu menarik itu

Dalam imajiku, yang sedang liar berkelana karenamu, aku akan mengisi bangku kosong di depanmu

Menatap indahmu lebih lekat dalam dekat, menikmati candumu lebih intim kemudian tenggelam dalam bius suaramu

Mencoba membangun sepatah dua patah pertanyaan demi mengalihkan pikirmu bahwa aku sedang diam2 mengaggumimu dalam setiap jawab yang kau ucap

Sebagaimana mantra, apapun kata dalam bicaramu seakan di rapal langsung oleh Succubus, tertuju khusus padaku. Setidaknya untuk akhir hari ini.

Aromamu, sepintas manisnya harum mawar berbalut citrus khas racikan Miss Dior, berbalut nuansa gelap asap tembakau, menyulap sore di kafetaria ini semetara menjelma surga bagiku dan aku seorang.

Namun semua hanya imajiku, yang terlalu pengecut untuk mampir dan menanyakan namamu

Pada akhirnya, kekaguman ini akan berakhir secara tragis sekaligus klasik,

Aku benar-benar berharap keindahan ini tak akan ada ujungnya, agar menjadi kekal dalam khayal

Namun tiada dayaku, mampu menahanmu melirik waktu di pergelangan tangan kidalmu lalu lambat laun beranjak menjauh

Kekaguman yang semu ini, pada akhirnya, kembali menjadi aku dan kamu, tidak pernah sampai menjadi kita

Namun izinkan aku, dalam sepotong syair ini saja, memori serta imajiku tentangmu, abadi.

Sembari berharap-harap hampa, jutaan kemungkinan lainnya, menghantarkan aku dan kamu pada kali kedua.

Setiabudi, Selatan Jakarta.

Tunggu.

Aku akan menunggumu

Sebagaimana bulan setia menanti mentari

Dan mendung mesra temani hujan

Serta kemarau yang menunggu gerimis

Aku pasti akan menunggumu

Di saung, petani mendoa datangnya kuning

Dan tikus-tikus sawah yang tak sabaran adalah hama

Sebentar ia kenyang, lalu dikoyak-koyak ular sawah

Aku tak akan berhenti menunggu

Seperti asongan yang menunggu lampu merah

Seakan karyawan menanti pukul lima

Selagi nelayan menanti tali pancing bertarikan

Adalah menunggu, menjadikan hidup ini hidup

dan hanya sabar,

yang membuat padi-padi menguning

dedaun menghijau kembali dari kering

serta senyum terukir dari dahi yang pusing

Yang ku tunggu siapnya dirimu,

agar kembali kita ukir cerita kita dalam cakrawala

atau samudera hindia

atau puncak garuda wisnu kencana

pun di seluruh sudut jakarta

Aku pernah, sedang, dan akan selalu menunggumu, 

bukan pikirku, 

bukan mauku, 

tapi rasaku, demikian.

Lepas

Daun-daun yang mengering jatuh

Rumput-rumput yang gersang mati

Bunyi-bunyi yang sayup senyap

Cahaya kemudian bersinar redup

Lepas

Biarlah,

Yang pamit biarlah pergi

Agar hilang jadi arti

Yang ramai jadilah sepi

Agar hening belajar mengerti

Lepas

Biarlah sang kata menjelma rupa

Abadi dikau pada goresan tinta

Secarik kanvas, jadilah beliau nyata

Bersemayamlah disana, isi kepalaku menjelma

Lepas

Hingga putih hanyut dalam warna

Terlukis dalam tekstur, cerita menjadi gestur

Agar kepala-kepala mereka sibuk menerka

Atas goresan kuas penuh tanya

Lepas

Jadilah sayup sayup sunyi itu lentera

Menemani abu menangis sepi ditinggal asap

Yang diculik angin malam

Kala aku berkelana, melawan kata yang fana

Lepas

Warna-warni itu melebur menyatu

Melahirkan satu yang baru

Agar merekah indah, terpacar dengan gagah

Menutupi sendiri yang kusut nan resah

Lepas

Jemari ku bergerilya bebas

Coretan sarat makna tergores cadas

Mengungkap benci yang pedas

atau api murka yang panas

Lepas

Sampai yang tersisa tinggalah cinta

Berselimut canda, dibalut tawa

Sampai terhapus sedih perih

Berganti bersih, mengalir jernih