Sebungkus Lemper

Kita adalah Sebungkus lemper

di Sabtu pagi tergeletak menunggu pembeli

Seribu satu Dua ribu tiga, Harga kita di mata mereka

Murah, memang. Tapi syukurku tak hingga

Karena bersatu denganmu adalah bahagia.

Aku adalah daun pisang

Hijau melukis ketidak sempurnaan tubuhku

Terkadang bersanding dengan bopeng-bopeng kehitaman

Sesekali digerogoti ulat atau dikelilingi lalat

Jumat kemarin, pertama kali ku rasa hadirmu

Aku dibawa masuk ke dapur terlebih dahulu, kau menyusul

Sedari tadi aku sudah melirik-lirik malu,

Kemudian jatuh semerbak wangi ketan, khas engkau

Aku jatuh cinta

Boleh ku intip merk apa parfum mu?

Biar ku gandakan, aku sebar ke luar kota, luar negeri, bahkan luar angkasa!

Agar semesta mengerti seberapa indah Aroma ketan milikmu

dan milikmu seorang.

Kau putih dan menggumpal menggemaskan

Lalu didalam perut itu kau mengandung cincang ayam yang begitu lezat

Begitu sempurna

Aku tidak bisa tidur malam sabtu itu!

Terbayang-bayang putih gempal rona tubuhmu

Amboi, cantik betul ya tuhan!

Semalaman aku berkhayal

Apa jadinya jika kau jadi milikku?

Cepat-cepat ku hapus bayang itu

Sadar daku, hanya selembar daun pisang bopeng nan jelek

Subuh itu, Takdir berkata lain

Dengan kuasa yang kuasa melalui jemari mbok Marni

Kau dan aku dipertemukan

Kau masih malu-malu tertunduk, pun aku begitu

Mbok Marni jadi Penghulu kawin kita

Mana ada Penghulu Wanita? Ada !

Justru menurut adat Lemper, Laki-laki jarang sekali jadi penghulu

Subuh itu, kita sah

Atas nama Ketan dan Daun Pisang, kita menyatu

Kata mbok marni, semenjak saat ini, tiada lagi aku atau kamu

Yang ada tinggal kita, Sebungkus Lemper

Kau memelukku erat

Sebelum kenduri adat malam itu menggaung

Dan perapian itu jadi pembuka perhelatan sakral cinta kita

Kemudian kita berendam didalam kubangan air mendidih itu, terkukus

Kau mengeluh panas, ku usap pundakmu, tenang

Seburuk apapun jadinya, aku akan selalu ada tuk mendekapmu erat

Jadilah kita di Sabtu pagi ini,

Bersantai-santai di teras bufet lontong

Sendau-gurau dengan tetangga, Pakde Bakwan dan Bude Tahu Bacem

tak lama anaknya muncul,

Dik Sate Puyuh yang Asin, baru pulang jogging katanya

Nyala surya meredam hangat perpisahan itu

Lalu kini biarlah, kita terombang ambing di kresek

Perjalanan menuju piring-piring saji

Kita semua tahu akhirnya

Tentu, aku dan kamu akan dilahap dengan sedapnya

oleh Keluarga Manusia itu

Biarlah, kalau akhirnya harus begini

Lara, memang. Tapi syukurku tak hingga.

Karena bersatu denganmu adalah bahagia.

Sepi di Kemang Raya

Aku Suntuk.

Dan begitu bosan.

Dan bosanku yang tak terbendung itu,

Meniupkanku terbang berkeliling suatu daerah

yang katanya Khusus dan Istimewa.

yang ujarnya ibu dari seluruh kota.

yang hampir 2 lusin purnama ku tinggali

dan aku masih tak pernah melihat sosok keibuan dalam dirinya.

Ia gesit, tegas, pemarah, cadas dan berbahaya.

Aku kadang berpikir baiknya ia disebut Jakarta si Bapak Kota.

Seiring angin berhembus, sayapku berkepak lebar,

dan aku sudah menelan 3/4 Jakarta,

Namun Jakarta tampaknya akan tetap begitu-begitu saja.

Selalu akan ada kemacetan, yang aku tak paham betul sumbernya.

Apakah kemacetan itu hanya terjadi di jalanan,

atau terjadi di kemampuan berpikir para pemangku jabatan di Senayan?

Ah, sudahlah.

Tak enyahnya semalam suntuk untuk mengunyah halus-halus masalah ibukota.

Maka kularikan diri ke bagian Selatan Jakarta.

seperempat bagian terakhir yang ku jamah malam ini.

yang tak ku sangka begitu meriah dan mewah.

gemerlap kota dan gedung-gedungnya berjejer rapat dan menjulang memancarkan sinar seakan menolak tertidur.

dan mobil-mobil mewah yang lalu-lalang kemudian terparkir di depan etalase hiburan malam.

Kemudian di sajikan kepadaku kemegahan Kemang Raya.

Dan aku tergagu kaku

Terang gelap cahaya neon mondar-mandir,

Hingar-bingar deru musik elektrik dari kedai-kedai penjajak minuman yang seakan berlomba-lomba menarik pengunjung

dan wanita yang amboi, jelita betul layaknya gadis sampul

dan tentu 1-2 nya jika beruntung, bisa kau bawa pulang

tapi pikirku jadi bertanya-tanya

bersama seluruh riuh suara bergema tentang kebebasan

Betulkah masih tersisa cinta di Kemang Raya?

atau jangan-jangan tinggal lagi semu

yang berhias pada 2 bibir insan yang menari, ber-lenggang lenggok hingga fajar

kemudian saling lupa, saling berlambai tangan dan mundur menjauh

berulang bagai siklus harian

bak tiada hati tiada rasa

hanya ada senang dan kenang semalam saja

maka pagi itu aku terbangun,

diatas ranjang, sendiri meski ukurannya untuk berdua

lengkap bersama seprai yang berantakan

dan gincu merahmu yang kering disudut bibirku

aku merasa sepi,

begitu sepinya hingga bertanya kembali

Masihkah cinta tersisa di Kemang Raya?

Lawless Burgerbar, Kemang.

Kunjungan ke Surga

Kawan,

Duduklah sejenak bersila, hadap-hadapan kita dan sebentar saja ku minta waktumu

Kuingin bertutur tentang magisnya sinar rembulan jatuh malam ini

sebagaimana ia jatuh tepat di ranjangku serta menjemputku naik

menyuguhkan pandangan yang tak terlintas padaku barang sedetik

Kawan,

Terakhir kuingat adalah gelap, kala mataku terpejam nyenyak dibalik hangat kemul yang mendekapku lembut

Rupa-rupanya itu fajar, dan aku tak biasanya peduli itu

Namun fajar dihari itu sama sekali lain

Aku terbangun pada tiup lembut sejuk khas udara pegunungan

Mungkin kulitku pangling, maklum, aku sedari kecil sudah menyembah gemerisik desir ombak

Kemudian terjaga aku, tersentak dan terbelalak

Aku terbangun di suatu ruangan yang begitu indahnya, harum kasturi menyerbak menyadarkanku

Kasurnya yang empuk lengkap dengan selimut berbulu angsa dan ukuran yang amat lega,

Cukup betul membuatku terlelap jika lengah walau sekejap

Dahiku berkerut dan alisku terangkat, aku bingung seribu bingung

Kala aku menyadari mewah betul kamar ini

Pun menyebutnya kamar aku ragu, kagumku berdecak akan luasnya, setara aula sekolahan!

Tentu ini bukan kamarku yang sempit nan berantakan

Perabotan antik nan indah tampak begitu padu walau disanding dengan kaca besar layaknya rumah elit Pondok Indah

Dari kaca itu aku mampu menerawang ufuk merah yang mendaki awan, melawan gulita dan embun yang seakan tak mau kalah

Semburat oranye itu tampak begitu megah bersanding dengan siluet pepohonan besar nan rimbun

Kepalaku menggeleng sembari bergumam, ‘Astaga, Aku ini dimana?’

Jantungku hampir lepas ketika aku melompat jatuh dari kasurku

Kala gumamku ternyata dijawab suara yang menggema di sekujur ruangan

Suara itu menenangkan betul, layaknya dekap rindu seorang Ibu

Ia pula berwibawa, layaknya kokoh pundak seorang Ayah

Namun sosoknya sama sekali tak tampak

Merinding aku, Demi Tuhan!

‘Inilah surga yang selama ini kau lupakan’ ujarnya kemudian menyebut namaku

Waktu berlari begitu cepat

Seiringnya pula langit membiru dan awan putih cerah bergumpal

Matahari cerah jatuh tepat di hadapan wajahku yang masih terheran-heran

Kuberanikan diri berdiri dan melangkah menuju balkon

Ampun, terpana takjub aku memandangnya.

Sepanjang mata memandang yang kulihat hanyalah keindahan

Pegunungan, hutan yang asri dan jauh disana terdapat lautan lengkap bersama airnya yang membiru dan mengkilap cahaya jatuh menampilkan bayang burung yang berterbangan

Dibawahku mengalir sungai-sungai yang padanya berenang ikan-ikan berjuta warna, gemericik suara air terdengar begitu lembut dan sopan menghinggapi telingaku

Sekali lagi aku bergumam, yang tiada ku sangka jadi gumam paling ku sesali seumur hidupku

‘Apalah kurangnya tempat ini jika betul inilah yang disebut-sebut Surga?’

Suara itu menggema kembali, tapi kali ini dengan nada yang begitu mengundang tanya

‘Hanya satu kurangnya’

Kepalaku tak berhenti memikirkan apa kurangnya, kembali dahi ku tertekuk

Suaranya kali ini benar-benar terdengar seperti mimpi buruk

yang tak terbayar dengan jutaan liter air mata

‘Di surga ini nantinya, tidak ada kamu’.

Lawang Wangi, Dago Pakar.

Gelap Hitam Pekat

Lagi, malam ini ku menulis tentangmu

Beriring senandung mengisahkan Tanah Ubud

Bersama sepertiga malam ku yang selalu ramai akan puluh-ratus pikirku tentangmu

Kucurahkan satu-dua tetesnya dalam ketuk jari telunjuk

Bukan untuk apa atau siapa

Seperti dupa yang dibakar diatas tungku abu, tulisan ini layaknya memori beserta amin dari doaku terpanjat untukmu

Sejujurnya, aku sedikit bertanya akan kabarmu

Tentang foto keluarga yang terpajang di lantai dua rumah orangtuamu

Tentang ruang tamu dan siomay yang kubeli lima puluh meter dari kanan gapura

atau Sekadar tentang keluh sulit tidurmu dan Hujan yang membasahi ujung kelopak mata indah milkmu, dan milikmu seorang

Bersahabat dengan Sang Gelap Hitam Pekat, aku mulai belajar mengerti yang kau alami

Pengeras suara memutar senandung selanjutnya,

Dan dari lagu inggris itu, ku percaya

Malam-malam ini niscaya diciptakan untuk mengutarakan apa yang tak terucap esok hari

Kusibak sedikit tirai jendela, tampak ibu bulan syahdu mengucap puja-puji

Kutitipkan padanya, dengan sedikit berteriak

“Sudikah ibu menyampaikan khawatirku padanya?”

Pun jika tak disampaikan aku maklum

Jarak kamarku dan bulan cukup jauh

Namun tiada apa dibanding jarak kita

Karena kita tak terpisah langkah, namun terpaut waktu

Maka dalam kenang, ku resapi perlahan semua ingatan

yang masih mungkin kusadur meski kabur

Pada detik ini, nikotin menyerbak berbondong mengepung kepalaku

Menyumbat aliran darahku, memenjarakan kenangan indah tentang kita

Termasuk sarapan yang kita nikmati di kantin kampusmu

Tentu bersama curi pandang yang tak kupungkiri adanya

Hati-hati dengan nikotin, ujar mereka

Katanya, menyebabkan candu

Ah, masa bodoh, jawabku

Memangnya ada yang bisa yang mampu mengalahkan pikatmu padaku ?

Memangnya ada yang mampu menaklukkan tawamu sebagai canduku?

Asia Afrika, Bandung.

Senyawa Romansa

Molekul kimia perasaan ini merekah indah
Daya kohesi wajahmu memikat imajinasi akan kolase tentram dan senyuman
Khayal tentang kita, letih sarafku mengayuh dalam serotonin semu
Adakah akhir narasi dari nyanyian indah tentang dikau, Athena?

Kedai Kopi

Terkutuklah

Oh, terkutuklah waktu!

Yang menggariskan pertemuan kita di saat yang salah.

Sungguh memandang tawa terukir diwajahmu yang sendu,

meluap bahagiaku tak terbendung.

Tutur kata yang mengalun tenang dari sosok yang tegar,

berhasil menyapu bersih ruang kosong di tempat tersunyi dalam diri, hati.

Sungguh terkutuklah waktu,

mempertemukanku denganmu, disaat aku takut.

Takut kehilanganmu, atau takut tak bisa menjaga hatimu

yang lembut dan tiada kusut, tulus nan halus.

Bukit Bintang, Dago Pakar

Semoga

Semoga

Teriknya Ringroad

Ramah tamah warga

Tata Krama Gadjah Mada

Nikmatnya Angkringan

Temaram langit malam

Dan seluruh kesederhanaan Yogyakarta

Menjagamu, Sebaik-baiknya

Semoga

Filosofi Kopi Jogja

Milik Aku!

Seiring langit renta yang abu, bergemuruh, dan gerimis, di pelataran gubuk. Kopi hitam minim gula tak terasa terlalu pahit saat ini, mungkin karena aku mengenangmu. Aku sedang pulang, sedang kota ini sudah menjadi rumahku. Sebagaimana seharusnya rumah, aku tau persis setiap kilan hingga pojok kota. Yang sialnya, aku lalui bersamamu. Semua saksi bisu itu, entah debur ombak, entah dingin dan gelapnya pertunjukan film, entahlah, rasanya kota ini memang dibuatkan untukku, demi mengenangmu. Apa pula yang tak pernah kita lalui? Huh, terlalu pagi untuk berkesah karena ternyata sudah ada yang menjagamu, menutup semua celah masuk, bahkan tak sekatapun mampu sampai ke dikau. Atau mungkin kau juga tak mau mendengarnya? Ah peduli setan. Cukuplah aku simpan baik-baik ingin dan anganku tuk tau sepucuk kabarmu, di ruang imaji, yang tak terjamah oleh pacarmu itu! Karena disini, kau milikku, milik aku!