Aku Suntuk.
Dan begitu bosan.
Dan bosanku yang tak terbendung itu,
Meniupkanku terbang berkeliling suatu daerah
yang katanya Khusus dan Istimewa.
yang ujarnya ibu dari seluruh kota.
yang hampir 2 lusin purnama ku tinggali
dan aku masih tak pernah melihat sosok keibuan dalam dirinya.
Ia gesit, tegas, pemarah, cadas dan berbahaya.
Aku kadang berpikir baiknya ia disebut Jakarta si Bapak Kota.
Seiring angin berhembus, sayapku berkepak lebar,
dan aku sudah menelan 3/4 Jakarta,
Namun Jakarta tampaknya akan tetap begitu-begitu saja.
Selalu akan ada kemacetan, yang aku tak paham betul sumbernya.
Apakah kemacetan itu hanya terjadi di jalanan,
atau terjadi di kemampuan berpikir para pemangku jabatan di Senayan?
Ah, sudahlah.
Tak enyahnya semalam suntuk untuk mengunyah halus-halus masalah ibukota.
Maka kularikan diri ke bagian Selatan Jakarta.
seperempat bagian terakhir yang ku jamah malam ini.
yang tak ku sangka begitu meriah dan mewah.
gemerlap kota dan gedung-gedungnya berjejer rapat dan menjulang memancarkan sinar seakan menolak tertidur.
dan mobil-mobil mewah yang lalu-lalang kemudian terparkir di depan etalase hiburan malam.
Kemudian di sajikan kepadaku kemegahan Kemang Raya.
Dan aku tergagu kaku
Terang gelap cahaya neon mondar-mandir,
Hingar-bingar deru musik elektrik dari kedai-kedai penjajak minuman yang seakan berlomba-lomba menarik pengunjung
dan wanita yang amboi, jelita betul layaknya gadis sampul
dan tentu 1-2 nya jika beruntung, bisa kau bawa pulang
tapi pikirku jadi bertanya-tanya
bersama seluruh riuh suara bergema tentang kebebasan
Betulkah masih tersisa cinta di Kemang Raya?
atau jangan-jangan tinggal lagi semu
yang berhias pada 2 bibir insan yang menari, ber-lenggang lenggok hingga fajar
kemudian saling lupa, saling berlambai tangan dan mundur menjauh
berulang bagai siklus harian
bak tiada hati tiada rasa
hanya ada senang dan kenang semalam saja
maka pagi itu aku terbangun,
diatas ranjang, sendiri meski ukurannya untuk berdua
lengkap bersama seprai yang berantakan
dan gincu merahmu yang kering disudut bibirku
aku merasa sepi,
begitu sepinya hingga bertanya kembali
Masihkah cinta tersisa di Kemang Raya?


