Adakah kau mencari rumah yang lain untuk singgah?
Sebab yang tersaji di meja makan kita hanyalah riak dan riuh
Serta isak yang getir, tertunduk biru
Dibawah kelam bayang amarahmu
.
Adalah kisah kita yang selayaknya rumah tua
Reot nan rapuh, lengkap dengan perabotan yang usang
Romantisme yang melapisi dinding perasaan kita pun mengelupas, sebagian yang lain luntur dan berjamur
Kenangan kita, yang kau simpan rapi di pojok ruangan mulai berselimut debu
dan Tanya kemudian menggema di seisi ruangan, “Kenapa bertahan?” ujarnya
Barangkali, yang tersisa tentang cerita kita hanyalah pusaka
dan sebagaimana istana, kita, hanya tak ingin kisah ini hilang
walau layaknya pusaka, kisah kita, hanya akan terkurung dan terkungkung.
