Akan kubuka sajak ini dengan segenap doa
Kepada seorang Adam, yang hatiku pernah dan masih saja berlabuh
Agar kepadanya terhindar segala macam luka dan perih,
sebagaimana diriwayatkannya padaku.
–
Alkisah ini bermuara jauh sebelum romansa,
Hanyalah semanis gadis kecil riang, dari selatan kota Semarang
Sebagaimana kawan sebaya, bahagiaku terlahir dari taman dan ayunan
Soreku selalu penuh tawa dan cita hingga cahaya habis ditelan Maghrib.
Seingatku, walau aku bukan pengingat ulung,
Tiada duka berselimut tebal kala masa itu
Paling satu-dua tangis, akibat tersungkur sebab nasib tak mujur,
Klasik.
Sisanya? Aku yakin betul berisi canda, tawa, dan bahagia tak berbendung.
Meski berani ku bertaruh,
Aku yang kecil bergeleng tak setuju dan bersungut murung,
Memang nya orang dewasa saja yang mengerti rasanya mendung?
–
Oh, benar
Baru terlintas ingatku pada salah satu hari kelam kala itu,
Dimana gelak dan tawaku berhilir kelabu, berhulu Kupu-kupu.
Aku, yang kala itu hendak melompat tali, keahlianku
Yang mana atas indahnya mampuku itu,
berdecak kagum dan sorai kawananku.
Namun, senja hari itu, lain
Sesaat sebelum aku melompat, dia datang
Dengan pesona kelopaknya,
Kesana kemari mencari makna
Sekujur pandang kagum berkiblat padanya,
Anggun indah tiap kepaknya, bak sulap dan sihir,
Menjadikannya Primadona dalam sekejap mata.
Kupu-kupu brengsek!
–
Sorai kagum kawananku pada primadona barunya selesai Maghrib itu,
Aku, dengan setengah cemberut, turut mengaminkan perpisahan itu dan menuju pulang
Namun, tanpa duga tanpa paksa, kupu-kupu itu hampir dan hinggap didekatku
Atas kehendak apa, aku tiada tahu
Maksudku, ada gerangan apa pula seekor itu tiba-tiba hinggap sekonyongnya
kemudian mengusik Soreku yang agung?
Lain rasa dan pandangku dari kawanan
Benci, takut, dan jijik
Semua menjelma satu dalam pikirku padanya
Maka, kupikir, agar tiada lagi esok soreku terganggu oleh Seekor tak tahu malu
Ku ambil lalu kugenggam erat dia dengan terbakar api cemburu,
Sampai jumpa di Surga, salam akhirku padanya.
–
Kupikir, selesai sudah kelam dan kelabuku
Rupa-rupanya, itu baru awal mula.
Selepas genggam itu kulepas, tanganku lengket berlumur lendir
Lebih-lebih jijikku padanya, makin-makin benciku atasnya
Namun, menjadi pahamku bahwa menyakitinya tiada baiknya bagiku,
Meski saja cemburu itu terkadang tetap menjelma.
Namun, termenung heran remajaku,
Ketika setiap Kupu-kupu terbang disekitaranku
Akan selalu ia mendekat dan hinggap dihadapanku
Walau, mungkin dia juga mengerti benar,
Bahwa semakin dekatku padanya, semakin sakit yang ia terima.
–
Dewasa ini, baru ku mampu pahami
Kala bersama mendung yang segeranya mengguyur hujan,
Dalam sunyi dan hening Bulan Maret tahun ini,
Lagi, tanpamu kasihku
Yang sedang terujung nan jauh,
diantara sungai-sungai dan belantara hutan Borneo
Harusnya Bulan Maret jadi Bahagiaku!
Namun, justru, kau rampas segenap harapku
Akan kita yang tetap indah dan mesra.
Atau setidaknya aku yang bahagia dan penuh cita.
Hanya dalam satu malam selepas perayaanku, Kau ucap sakralnya kata pisah.
Remuk, bercalar-calar,
Sebagaimana sayap kupu-kupu itu patah dalam genggam ku,
Kepingan hatiku terkoyak-koyak dalam genggam mu.
–
Akhirnya ku mengerti,
Bahwasanya, yang terdekat sangat mungkin menyakiti
Dan yang tersakiti, dalam tulusnya, akan selalu mencoba kembali.
Karena dalam tiap dekatmu ku tuai nyaman,
Dan atas nyaman itu, berapapun kan ku bayar!
Meski ternyata, matinya rasaku adalah harga yang kau pinta.



